Bekantan sejak lama menjadi maskot Kalimantan Selatan. Hewan yang satu ini mudah dikenali karena memiliki hidung panjang yang berwarna merah.
Posisi pulau ini di bawah Jembatan Barito, jembatan kebanggaan warga Kalimantan Selatan. Pulau kecil ini berupa hutan, tanahnya becek, dan ditumbuhi berbagai tanaman liar. Di sinilah para bekantan itu tinggal.
Pulau ini kerap menjadi destinasi wisata bagi para pelancong. Daya tariknya adalah kehidupan liar para bekantan itu. Bekantan tergolong berbeda dari hewan-hewan jenis primata lainnya seperti kera, lutung, orangutan, dan lain-lain.
Hewan yang satu
ini memiliki hidung panjang yang berwarna merah. Bulunya ada yang
berwarna coklat muda, ada juga yang agak putih. Bekantan sejak lama
menjadi maskot Kalimantan Selatan.
Kini, hewan ini dilindungi sehingga habitatnya tak boleh diganggu. Namun wisatawan boleh saja melihat langsung hewan ini dengan mengunjungi habitat aslinya.
Namun
jika cuaca mendung atau hujan, mereka tak tampak. Walau begitu, tetap
ada saja beberapa ekor yang masih tampak bergelantungan di pohon. Para
wisatawan bisa dengan bebas menyaksikan mereka di pulau ini.Kini, hewan ini dilindungi sehingga habitatnya tak boleh diganggu. Namun wisatawan boleh saja melihat langsung hewan ini dengan mengunjungi habitat aslinya.
Hewan-hewan
ini biasanya bergelantungan di pepohonan di pulau tersebut. Mereka
lucu-lucu. Saling cari kutu dengan pasangannya atau mesra-mesraan
berbagi makanan. Kadang juga bertengkar rebutan pisang. Jika cuaca
cerah, mereka kerap bertebaran di bawah pohon.
Pulau ini dijadikan daerah konservasi bekantan dan cocok pula bagi wisatawan yang memiliki minat khusus, yaitu menanam untuk turut menjaga kelestarian alam dan fotografi alam liar.
Tiap hari ada saja wisatawan yang berkunjung ke sana. Mereka tak sekadar melihat aksi gelantungan para bekantan, namun ada juga yang melakukan penanaman pohon.
Di sepanjang perjalanan, wisatawan
bakal disuguhi alam khas Kalimantan. Mendekati Pulau Bakut yang berada
di perairan Sungai Barito, akan tampak kapal-kapal tongkang pengangkut
batu bara.
Tongkangnya berjalan pelan saja dan berukuran besar.
Seorang warga setempat mengatakan pulau ini dinamai bakut karena di
sekitar situ banyak ikan bernama bakut.
"Dulu,
banyak warga ke pulau ini hanya untuk menangkapi ikan bakut. Makanya
dinamakan Pulau Bakut. Sekarang sudah tidak pernah lagi, tetapi konon
ikannya masih ada," sebutnya.
Tanah di pulau ini becek, jika
melangkah harus sangat berhati-hati. Di sini banyak pohon rambai.
Buahnya biasanya kerap menjadi santapan para bekantan ini. {http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/10/bertemu-bekantan-di-pulau-bakut}
Tidak ada komentar:
Posting Komentar