Sejak Jembatan Kapuas Tayan bagian pertama bisa digunakan masyarakat, akses kendaraan darat ke Desa Pulau Tayan Utara yang berada di tengah Sungai Kapuas itu ikut terbuka. Segala keterisolasian mulai terpecahkan. Pulau yang dulunya sepi kian ramai dikunjungi.
MATAHARI belum begitu tinggi saat Pontianak Post mampir di salah satu warung pinggiran Sungai Kapuas di Dusun Pulau Tayan Utara, Desa Pulau Tayan Utara, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalbar, Senin (28/12). Beristirahat sambil menikmati suasana pagi, sedikit menghilangkan penat setelah sekitar dua jam perjalanan dari Pontianak. Angin yang berhembus dari arah sungai ikut menyegarkan mata, rasa kantuk pun seketika hilang.
Terlihat masyarakat mulai beraktivitas, perahu-perahu motor lalu-lalang di sungai. Di bantaran, ibu-ibu sibuk mencuci bersama anak-anak yang mandi mencebur ke kali. Warung ini masih terlihat baru, dinding kayunya belum dicat. Bangku dan mejanya juga masih papan asli. "Belum sebulan warung ini buka," ujar pemiliknya Ratih saat ditanyai kapan mulai berjualan
Menurutnya, memang dari sekitar sebulan yang lalu daerah mereka mulai ramai dikunjungi. Sejak Jembatan Kapuas Tayan bagian pertama yang menghubungkan Desa Kawat ke Desa Pulau Tayan Utara selesai dibangun dan boleh digunakan masyarakat, daerah yang dulunya jarang didatangi orang kini selalu ramai. Itulah alasan utama dia membangun warung, tepat di depan rumahnya.
Di warungnya Ratih hanya menjual jajanan sederhana. Mulai dari berbagai minuman ringan seperti kopi panas dan es ditambah aneka cemilan seperti kue dan berbagai macam snack. Meski baru, dia mengaku tempatnya tak pernah sepi. Walau jembatan belum secara resmi dibuka ternyata dampaknya sudah mulai terasa.
"Warung ini anak saya yang mengelola, lumayan untuk masa depan, menambah penghasilan," katanya.
Tak hanya di pinggiran sungai di pulau bagian utara, di sisi sebaliknya, tepat di bawah jembatan bagian kedua yang menghubungkan Desa Pulau Tayan Utara ke Piasak juga tak kalah lebih ramai.
Di sana kini berdiri belasan kios beratapkan terpal. Banyak wisatawa yang berkunjung. Keindahan pemandangan pulau berlatar gunung serta jembatan yang elok menjulang tinggi menjadi daya tarik tersendiri. Memanfaatkan momen itu, masyarakat pulau banyak yang berjualan mulai dari makanan, minuman dan cemilan.
Salah satu pemilik kios, Sari mengaku baru hampir sebulan berjulan di sana. Awalnya dia hanya membuka warung serupa di depan rumah. Melihat masyarakat yang berkunjung ke jembatan semakin ramai, dia pun pindah berjualan ke sana.
Awalnya gadis berusia 23 tahun itu berjualan hanya Sabtu dan Minggu. Masuk libur Natal dan Tahun Baru jadi setiap hari. "Dulu pengunjung ramainya hanya Sabtu dan Minggu, Alhamdulillah sekarang tiap hari. Dulu kiosnya juga tidak seramai sekarang. Di sini yang jualan orang pulau semua, " terangnya.
Sejak pindah, rupiah yang dihasilkan meningkat drastis. Harga barang yang dijual di tempat wisata dadakan itu memang agak tinggi, alasannya karena cukup repot mengangkutnya dari rumah.
Dari hasil berdagang mulai pukul 08.00 hingga 17.00, per harinya Sari bisa meraup keuntungan hingga Rp1 juta. "Bahkan waktu belum ramai yang jualan sehari bisa tembus Rp2 juta," katanya lagi.
Selain perdagangan, sektor jasa juga mulai menjanjikan. Pengelolaan lahan parkir misalnya, dalam sehari bisa mencapai ribuan kendaraan yang datang. Selain itu, sebagian warga juga menawarkan penyewaan perahu motor. Sambil menikmati pemandangan dan berfoto-foto, pengunjung bisa menyewa perahu motor untuk diajak berkeliling di kawasan jembatan. Per orang dikenakan tarif Rp10 ribu.
Kepala Desa Pulau Tayan Utara Syech Ramlan membenarkan, meski jembatan belum diresmikan, terbukanya akses darat ke pulau dirasa mulai berdampak positif bagi perekonomian masyarakat.
Dia berharap hal ini bukan hanya momen sesaat. Karena itu perlu adanya arahan dari pemerintah yang lebih tinggi dalam rangka mempersiapkan masyarakat, baik secara fisik maupun mental.
"Yang jelas dengan adanya akses jembatan, desa di pulau tidak terisolir lagi, kami sudah sama dengan desa tetangga di luar pulau," ucapnya.
Untuk para pedagang yang berjualan di bawah jembatan memang hanya sementara. Setelah diresmikan mereka tidak diperbolehkan lagi berjualan. Apalagi lahan-lahan yang digunakan bukan sepenuhnya milik mereka. "Lahan-lahan di sekitar kawasan jembatan nantinya jadi hak pemiliknya mau dibuat apa," ungkap Kades yang menjabat sejak 2012 itu.
Sesuai dengan tipe desa, yaitu perdagangan, jasa dan pariwisata, kawasan jembatan akan difokuskan sebagai tempat wisata dan menjadi landmark daerah tersebut. Mayoritas masyarakat di sana yang bergerak di sektor perdagangan barang dan jasa, diharapkan mampu memanfaatkan peluang itu.
Selain itu, di daerah bagian timur sungai yang berpasir juga dikatakan berpotensi dijual sebagai objek wisata. "Jika nantinya didukung penuh oleh pemerintah dan masyarakat, saya yakin potensi-potensi wisata bisa cepat dikembangkan," ujarnya.
Terkait kesiapan masyarakat terhadap terbukanya akses jalur darat ke pulau, pemerintah desa mulai gencar melakukan sosialisasi. Pembangunan difokuskan pada infrastruktur. Terutama jalan-jalan di desa, sebab sejauh ini belum layak dilalui kendaraan roda empat ke atas. "Mau tidak mau harus menyesuiakan kebutuhan, sambil berjalan semua itu akan dipersiapkan," ucap Ramlan optimis.
Dia pun sering menyampikan kepada masyarakat dalam berbagai pertemuan agar bisa memanfaatkan peluang. Jangan sampai nantinya mereka hanya jadi penonton di tanah sendiri. Namun diakuinya, latar belakang SDM warga memang masih terbatas. Maka perlu diperhatikan lebih serius, sehingga masyarakat bisa mendapat pembekalan peningkatan kapasitas.
"Agar nanti mereka tidak hanya sekedar menawarkan jasa atau tenaga, tetapi bisa kreatif berinovasi membuat sesuatu yang lebih memiliki nilai jual."
Ramlan bersyukur akhir tahun ini sudah dirasakan secara nyata dampak positif terbukanya akses ke pulau. Apalagi bertepatan dengan beberapa momen perayaan hari besar seperti natal, maulid nabi dan tahun baru, dilihat dari volume kendaraan serta jumlah pengunjung, dalam sehari bisa mencapai ribuan orang. "Angka kunjungan meningkat pesat, minimal ratusan orang bahkan bisa ribuan perharinya," jelasnya.
Tidak hanya sesaat, Ramlan pun optimis di tahun-tahun mendatang desanya bakal cepat berkembang. Desa yang memiliki cir khas dan keunikan tersendiri. Desa yang sejak puluhan tahun mengandalkan angkutan sungai sebagai akses keluar masuknya, kini terhubung titian beton dan baja, membentang membelah pulau sepanjang lebih dari satu kilometer.
"Dari keunikan itu, akan banyak pelancong-pelancong yang datang menikmati suasana pulau. Masyarakat wajib memanfaatkannya demi kesejahteraan bersama," harapnya.
Disinggung waktu pelaksanaan peresmian, Ramlan mengatakan belum mendapat informasi yang pasti. Dia hanya memperkirakan mungkin di awal 2016 pada bulan Januari ini.
"Awalnya Desember tapi diundur, ini kan gawenya pemerintah di atas, tidak tahu kesibukannya seperti apa, paling kami diberitahukan seminggu atau tiga hari sebelum pelaksanaan," pungkasnya.
Diketahui dengan diresmikannya Jembatan Kapuas Tayan kelak, maka akan terhubung Pulau Tayan di Kecamatan Tayan Hilir dengan Kecamatan Piasak, Kabupaten Sanggau. Ini akan membuka akses jalan trans selatan Kalimantan yang saat ini belum tersambung.
Berdasarkan data yang ada, jembatan terpanjang di Kalimantan ini terbagi menjadi dua bagian, pertama panjangnya 280 meter terbentang dari Desa Kawat ke Desa Pulau Tayan Utara. Kemudian bagian kedua sepanjang 1.140 meter menghubungkan Desa Pulau Tayan Utara ke Desa Piasak.
Jembatan pertama dikerjakan kontraktor nasional yaitu PT Wijaya Karya (WIKA) sementara jembatan kedua dikerjakan kontraktor dari Tiongkok. Paket pengerjaan jembatan Tayan dilaksanakan selama tiga tahun dengan total nilai kontrak sebesar Rp907 miliar. Untuk proporsi dana pembangunan berasal dari pinjaman Pemerintah Tiongkok sebesar 90 persen dan 10 persen sisanya dari APBN.
Jembatan yang memiliki lebar 11,5 meter ini dilengkapi jalan akses sepanjang 3,7 kilometer. Tinggi jembatan dari permukaan air sekitar 15 meter. Telah diperhitungkan jika air pasang dan surut sehingga tidak mengganggu lalu lintas air. Mengingat Sungai Kapuas tetap menjadi salah satu nadi transportasi masyarakat Kalbar. Sedangkan untuk lengkung tengah panjangnya 200 meter. Fungsinya selain memperkuat fondasi juga memperindah jembatan jika dilihat dari kejauhan. (bar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar