Jumat, 06 Maret 2015

Mengapa ada beras yang Pulen dan Yang Pera


Mengapa  ada nasi yang rasanya  pulen dan yang pera. Selera rasa nasi ini terus berkembang dengan semakin meningkatknya kesejahtraan masyarakat. Di  Jepang misalnya orang jepang senang makan nasi pulen, padahal sebelumnya juga senang makan beras yang pera. Di Asia tenggara umumnya selera nasi masih pada nasi pera artinya dibawah jepang. Namun sekarang sudah berubah semakin mengarah ke rasa nasi pera. Kecuali di Birma warga disana sudah terbiasa makan beras ketan tiap hari yang pulennya minta ampun. Rasa pulan dan pera nasi ternyata disebabkan oleh   kadar amilosa rendah (7-20 %), tapi kadar amilokpetinnya tinggi. Sementara beras pera kadar amilopektin rendah dan kadar amilisanya tinggi. Karena itu   berdasarkan kadar amilosa, beras terbagi dalam empat tingkatan. Pertama berkadar 0-2 persen (ketan), 7-20 persen (pulen), 20-25 persen (sedang), dan 25-40 persen (pera). Masyarakat Indonesia cenderung mengidolakan beras dengan kadar amilosa rendah. Tidak mengherankan jika harganya lebih mahal.  Bagaiamana dengan gizinya, kualitas gizi beras tidak ditentukan oleh materialnya. Sebab yang lebih menentukan adalah komposisi zat pembangun tubuh. Beras pulen itu belum tentu lebih bergizi daripada beras pera. Di tengah krisis pangan, yang saat ini mendera bangsa Indonesia, masyarakat perlu disadarkan tentang seluk-beluk perberasan dari aspek nutrisi.  Dengan begitu, beras pulen belum tentu lebih baik daripada beras pera. Ini bisa terjadi karena perbedaan masa penyimpanan. Makin lama disimpan, terlebih dalam kondisi dan tempat yang tidak memenuhi syarat, maka mutu gizinya makin berkurang.  Selain itu kadar gizi juga ditentukan oleh perlakuan kita menjelang proses menanak nasi. Kalau kita mencuci beras hingga benar-benar bersih, ditandai dengan air pencuci yang terlihat bening, maka banyak kadar gizi yang ikut terbuang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar