TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Mantan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Ketapang, Yudo Sudarto mengatakan memperingati Hari Jadi Ketapang sangat penting. Banyaknya masyarakat Ketapang yang belum tahu ditegaskannya maka perlu sosialiasi pihak terkait.
Menurutnya peringatan hari jadi Ketapang tentu memiliki arti penting bagi masyarakat. Lantaran menunjukkan proses terbentuknya wilayah Pantai Selatan Kalimantan Barat yang melalui berbagai peradaban yang kompleks
“Jadi itulah Jati diri masyarakat Ketapang, yang terbentuk dari budaya yang cukup panjang,” kata Yudo kepada wartawan di Ketapang, Jumat (11/3/2016).
Menurutnya peringatan Milad Ketapang tentu dapat menjadi motivasi bagi warga. Selain nilai sejarah yang dapat menjadi ilmu termasuk budaya dan peradapannya. Terlebih penetapan Hari Jadi Ketapang merupakan peristiwa fenomenal.
Hal ini mengingat proses pencarian identitas sudah membutuhkan waktu sangat lama. Di antaranya melalui berbagai kajian keilmuan dan pemerintahan. Pada proses pencarian kepastian sejarah telah banyak pihak yang melibat diri.
“Di antaranya pemerintah, pemerhati kebudayaan, sejarahwan, akademisi, tokoh masyarakat. Berbagai kegiatan juga banyak dilakukan seperti diskusi, seminar dan lainnya,” tuturnya.
Penetapan hari jadi Ketapang didasarkan prasasti Nisan Makam Keramat Sembilan di Desa Negeri Baru yang bertarikh tahun 1340 Saka atau 1418 Masehi. “Nisan ini merupakan prasasti sejarah tertua yang ditemukan di Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Pada prasasti tersebut terdapat angka tahun dengan aksara Sanskerta. Kemudian untuk penetapan tanggal dan bulannya didasarkan pada peristiwa pemindahan pusat kerajaan Matan-Tanjungpura ke Mulia Kerta pada 11 Maret 1876.
“Dengan menggabungkan dua fakta sejarah lokal itu ditetapkanlah Hari Jadi Ketapang pada 11 Maret 1418 M. Ini gambaran bagaimana proses penetapan hari jadi Ketapang. Jadi jangan disia-siakan, memperingatinya hal yang tak terlalu sulit,” ujarnya.
Menurutnya peringatan hari jadi Ketapang tentu memiliki arti penting bagi masyarakat. Lantaran menunjukkan proses terbentuknya wilayah Pantai Selatan Kalimantan Barat yang melalui berbagai peradaban yang kompleks
“Jadi itulah Jati diri masyarakat Ketapang, yang terbentuk dari budaya yang cukup panjang,” kata Yudo kepada wartawan di Ketapang, Jumat (11/3/2016).
Menurutnya peringatan Milad Ketapang tentu dapat menjadi motivasi bagi warga. Selain nilai sejarah yang dapat menjadi ilmu termasuk budaya dan peradapannya. Terlebih penetapan Hari Jadi Ketapang merupakan peristiwa fenomenal.
Hal ini mengingat proses pencarian identitas sudah membutuhkan waktu sangat lama. Di antaranya melalui berbagai kajian keilmuan dan pemerintahan. Pada proses pencarian kepastian sejarah telah banyak pihak yang melibat diri.
“Di antaranya pemerintah, pemerhati kebudayaan, sejarahwan, akademisi, tokoh masyarakat. Berbagai kegiatan juga banyak dilakukan seperti diskusi, seminar dan lainnya,” tuturnya.
Penetapan hari jadi Ketapang didasarkan prasasti Nisan Makam Keramat Sembilan di Desa Negeri Baru yang bertarikh tahun 1340 Saka atau 1418 Masehi. “Nisan ini merupakan prasasti sejarah tertua yang ditemukan di Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Pada prasasti tersebut terdapat angka tahun dengan aksara Sanskerta. Kemudian untuk penetapan tanggal dan bulannya didasarkan pada peristiwa pemindahan pusat kerajaan Matan-Tanjungpura ke Mulia Kerta pada 11 Maret 1876.
“Dengan menggabungkan dua fakta sejarah lokal itu ditetapkanlah Hari Jadi Ketapang pada 11 Maret 1418 M. Ini gambaran bagaimana proses penetapan hari jadi Ketapang. Jadi jangan disia-siakan, memperingatinya hal yang tak terlalu sulit,” ujarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar