Kamis, 16 Juli 2015

Dulu di Ketapang Ada Sekolah Chung Hwa Hui




Kalangan etnis Tionghoa di Ketapang sudah begitu maju pada tempo dulu. Karena itu  di Jalan Merdeka Ketapang, (sekarang eks Pasar Melati)  pernah ada sekolah Tionghoa yang bernama Chung Hwa Ching Hui.  Seingat saya pada tahun 1968 ketika saya masih kelas IV SD,  saya pernah berkunjung ke Sokolah ini . Tapi sudah bubar, yang ada hanya SD V , tetapi masih ada tulisan cukup besar Chung Hwa Ching Hui . Kata Yudo sudarto Msi Mantan Kadis Budparpora Ketapang  kemarin di rumahnya . Menurutnya   beberapa  literature menjelaskan bahwa  yang benar mungkin Chung Hwa Hui.  Yaitu sebuah perkumpulan  pendidikan zaman Hindia Belanda.  Setelah bubar, sekolah Tionghoa ini juga dimanfaatkan untuk SD V dan  sekolah Guru yang bernama KPG atau sejenis guru bantu yang kalau praktek para calon gurunya di sekolah sasaya SD III jalan Sudiono . Gurunya ada orang Belanda yang kalau ngajar sopan sekali dan lues papar mantan birokrat ini. Di tempat ini juga merupakan Tempat Radio Daerah Ketapang pertama Berdiri. Beberapa tehnisi yang saya ingat Bapak Akok Yasa Negeri, Residen B. Opereter termasuk penyiar, Kamarduin Bakri dan masih banyak lagi. Konon sekolah ini tak hanya ada di Ketapang Di Kota kota di Jawa juga memiliki sekolah Chung Hwa Hui ini. Pada masa penjajahan Belanda Chung Hwa Hui adalah bentuk Nasionalisme etnis Tionghoa yang berorientasi pada Hindia Belanda. Namnya berasal dari organisasi politik Chung Hwa Hui (CHH) yang didirikan pada tahun 1928. Gerakan ini mendapatkan dukungan dari kalangan intelektual peranakan. Kelompok ini menganjurkan menerima kekawulaan Belanda dan aktif berpartisipasi dalam lembaga-lembaga politik lokal termasuk dalam Volksraad (Dewan Rakyat). Dan ternayata cukup berkembang layaknya taman Siawa, karena itu tak Hanya di  Ketapang. Tetapi beberap daerah di Jawa juga terdepat sekolah sejenis. Dengan pendidikan khusus ini warga Cina berharap sejajar dengan warga Belanda dan warga Pribumi. Runtuhnya sekolah ini diperkirakan pada tahun 1967 dimana pemerintah melarang sekolah yang berbau etnis dan berharap bergabung dengan sekolah nasional lain .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar